BPS Papua Sesuaikan Metode Pendataan SE2026 di Wilayah Minim Sinyal Statistics Indonesia of Papua Adjusts SE2026 Data Collection Methods in Areas with Limited Connectivity
Badan Pusat Statistik (BPS) Papua menyesuaikan metode pendataan Sensus Ekonomi 2026 dengan kondisi jaringan di lapangan. Penyesuaian dilakukan agar pendataan tetap berjalan di wilayah yang sulit memperoleh akses internet. Statistics Indonesia of Papua has adjusted its data collection methods for the 2026 Economic Census (SE2026) to accommodate network conditions in the field. The adjustment is intended to ensure that data collection can continue in areas with limited internet access.
JAYAPURA – Badan Pusat Statistik (BPS) Papua menyesuaikan metode pendataan Sensus Ekonomi 2026 dengan kondisi jaringan di lapangan. Penyesuaian dilakukan agar pendataan tetap berjalan di wilayah yang sulit memperoleh akses internet.
Pelaksana Tugas Kepala BPS Papua Akhmad Jaelani mengatakan kondisi geografis dan jaringan menjadi pertimbangan petugas dalam memilih metode pendataan. BPS menggunakan metode berbeda sesuai kondisi wilayah yang ditemui petugas.
“Di daerah yang sinyalnya susah, kami menggunakan PAPI,” kata Akhmad. “Artinya, petugas menggunakan kuesioner karena CAPI membutuhkan jaringan.”
Menurut Akhmad, PAPI menggunakan kuesioner untuk mengumpulkan data secara manual. Data tersebut kemudian dimasukkan kembali ke dalam sistem BPS setelah petugas menyelesaikan pendataan lapangan.
“Dengan pencacahan menggunakan kuesioner tradisional, petugas bekerja dua kali,” ujarnya. “Setelah mengisi kuesioner, datanya harus di-entry kembali ke sistem.”
Ia mengatakan kondisi geografis Papua juga membutuhkan penyesuaian dalam pelaksanaan pendataan. BPS terus mendampingi petugas untuk membantu menghadapi berbagai kondisi yang ditemukan di lapangan.
Selain kendala teknis, BPS menemukan sebagian masyarakat masih menolak pendataan. Penolakan antara lain muncul karena adanya kekhawatiran masyarakat yang mengaitkan kegiatan sensus dengan persoalan perpajakan.
“Ada beberapa warga yang menolak, tetapi kami ikut turun membantu menjelaskan,” kata Akhmad. “Kami mendampingi petugas lapangan agar masyarakat memahami kegiatan sensus.”
Akhmad mengatakan petugas mitra BPS telah mendapat pelatihan sebelum melakukan pendataan. Pendampingan dari jajaran BPS provinsi dan kabupaten juga dilakukan untuk memastikan petugas dapat menjalankan tugas sesuai kondisi lapangan.
Pendataan Sensus Ekonomi 2026 ditargetkan selesai pada 31 Agustus 2026. BPS terus melakukan penyesuaian metode dan pendampingan agar pendataan dapat menjangkau seluruh wilayah Papua. ***
JAYAPURA – Statistics Indonesia of Papua has adjusted its data collection methods for the 2026 Economic Census (SE2026) to accommodate network conditions in the field. The adjustment is intended to ensure that data collection can continue in areas with limited internet access.
Acting Head of Statistics Indonesia of Papua, Akhmad Jaelani, said geographical conditions and network availability are among the factors considered by field officers when selecting the data collection method. Statistics Indonesia of Papua uses different methods depending on the conditions encountered in each area.
“In areas where the signal is weak, we use PAPI,” Akhmad said. “This means officers use questionnaires because CAPI requires a network connection.”
According to Akhmad, PAPI (Paper and Pencil Interviewing) uses questionnaires to collect data manually. The data is then entered into the Statistics Indonesia system after officers complete the field data collection.
“With traditional questionnaire-based enumeration, officers have to work twice,” he said. “After completing the questionnaire, the data has to be entered into the system again.”
He said Papua’s geographical conditions also require adjustments in the implementation of the data collection process. BPS continues to assist field officers in dealing with various conditions encountered in the field.
In addition to technical challenges, Statistics Indonesia of Papua has found that some members of the public are still reluctant to participate in the data collection. Such reluctance is partly due to concerns that the census is related to taxation issues.
“There are some residents who refuse to participate, but we go into the field to help explain,” Akhmad said. “We accompany field officers so that people understand the census activities.”
Akhmad said Statistics Indonesia partner officers had received training before conducting the data collection. Assistance from provincial and regency-level Statistics Indonesia officials is also provided to ensure that officers can carry out their duties according to conditions in the field.
The 2026 Economic Census data collection is targeted for completion by August 31, 2026. Statistics Indonesia continues to adjust its methods and provide assistance to ensure that the data collection can reach all areas of Papua. ***
Tentang Penulis
Tim Redaksi Pemprov Papua
-